BLOGGER TEMPLATES - TWITTER BACKGROUNDS »

Tuesday, 29 June 2010

Pelihara Dirimu Dan Keluargamu Dari Neraka


بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته



(سورة التحريم)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ (٦) يَا أَيُّهَا الَّذِينَ كَفَرُوا لَا تَعْتَذِرُوا الْيَوْمَ إِنَّمَا تُجْزَوْنَ مَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ (٧) يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ يَوْمَ لَا يُخْزِي اللَّهُ النَّبِيَّ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ نُورُهُمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (٨)





Terjemahan:

(6) Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

(7) Hai orang-orang kafir, janganlah kamu mengemukakan uzur pada hari ini. Sesungguhnya kamu hanya diberi balasan menurut apa yang kamu kerjakan.

(8) Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kamu kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengan dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Tuhan kami sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (At-Tahriim 66:6-8)




Tafsir Ayat:

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu.

Maksudnya: Hai orang-orang yang beriman kepada Allah dan membenarkan RasulNya, hendaklah kamu mengajar sebagian yang lain tentang perkara yang boleh menyelamatkan kamu daripada azab api neraka. Iaitu dengan mentaati Allah dan melaksanakan titah perintahNya. Dan selanjutnya kamu juga wajib mengajar ahlimu (keluargamu) agar mengamalkan apa-apa yang boleh menghindarkan mereka daripadanya iaitu dengan menasihati dan membimbing mereka agar mematuhi perintah Allah.

Diriwayatkan bahwa ketika ayat di atas diturunkan, Omar Bin Al-Khattab bertanya kepada Rasulullah (sallallahu alaihi wasalam): Kami sudah memelihara diri kami dari neraka, lalu bagaimana pula cara kami memelihara keluarga kami daripadanya? Rasulullah (sallallahu alaihi wasalam) bersabda:


“Kamu larangkan mereka daripada melakukan apa yang Allah telah larangkan kepada kamu, dan kamu suruh mereka melakukan apa yang telah Allah telah suruh kepada kamu. Itulah cara menghindarkan mereka daripada neraka”.


Dan maksud ayat di atas menurut Saidina Ali (ra) pula ialah:


“Ajarkanlah dirimu dan keluargamu Al-Khair (perkara yang baik) dan bimbinglah mereka”. (Ibnu Munzir dan Al-Hakim)


Dan yang dimaksudkan dengan Ahli di sini ialah isteri, anak, ‘abd (hamba lelaki), amah (hamba wanita). (lihat Tafsir Al-Maraghy: Juz 28-30 halaman 162). Dan jika kita perluaskan skopnya pada hari ini juga termasuk pembantu rumah dan pekerja-pekerja di bawah jagaan kita. Ini sesuai dengan kehendak Nabi (sallallahu alaihi wasalam):


“Tiap-tiap kamu adalah pemimpin, dan tiap-tiap kamu akan ditanya(bertanggungjawab) tentang orang yang dipimpinnya”.[Hadis Sahih Riwayat Bukhari]


Seiring dengan maksud ayat di atas, Allah juga berfirman tentang kewajipan di atas pada ayat yang lain, antaranya:

1. “Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan solat dan sabarlah kamu dalam mengerjakannya” (Thaaha :132)

2. “Dan berilah peingatan kepada kerabat kerabatmu yang terdekat”. (Asy-Su’araa :124).


Jadi jelaslah dari huraian di atas bahwa tanggungjawab kita masih belum sempurna kalau hanya berusaha menghindarkan diri sendiri dari azab neraka, sedangkan keluarga kita abaikan dan tidak dibimbing supaya mentaati Allah. Taat kepada Allah mengandungi dua makna:


1. Melakukan suruhanNya
2. Menjauhi laranganNya.


Jadi taat kepada Allah sama dengan makna taqwa kepada Allah.

Dan untuk mengetahui secara pasti apakah sebenarnya faktor yang sangat menolong kita agar terhindar daripada azab Allah yang maha pedih? Perhatikanlah penjelasan langsung dari Allah dalam surah Ash-Shaff :10-11 di bawah ini:

“Hai orang-orang yang beriman, sukakan kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (iaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya, dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya”.

Jadi berdasarkan ayat di atas nyatalah bahwa faktor yang paling utama itu ialah Iman dan Amal Saleh. Oleh itu selain kita mesti memperkemaskan iman dan amal saleh kita secara peribadi, dan pada saat yang sama kita juga mesti berusaha memperkemaskan kedua-dua faktor itu untuk ahli kita.



Yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan

Maksudnya: Bahan bakar neraka ialah manusia dan batu. Manusia maksudnya kafir, dan batu pula maksudnya batu berhala yang disembah oleh musyrikin. Dan Allah menyerahkan tugas untuk menjaga neraka dan menyiksa penghuninya kepada Malaikat-malaikatNya yang sifat-sifat mereka sangat keras dan bengis; Mereka tidak mempunyai sifat belas kasihan dan tolak ansor kepada orang yang disiksanya. Tetapi jika ditinjau dari sudut lain pula mereka adalah makhluk yang sangat taat kepada Allah dan tidak pernah durhaka kepadaNya. Mereka senantiasa bersiap sedia melaksanakan apa saja yang diperintahkan oleh Allah.

Di antara sifat malaikat yang ditonjolkan dalam ayat di atas ialah mereka tidak degil (‘inaad) dan tidak malas (kasal).

“yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkanNya kepada mereka” mengandungi makna tidak degil dan “selalu mengerjakan apa yang diperitahkan” pula mengandungi makna tidak malas.



Hai orang-orang kafir, janganlah kamu mengemukakan uzur pada hari ini.Sesungguhnya kamu hanya diberi balasan menurut apa yang kamu kerjakan

Maksudnya: Ayat ini menjelaskan bahwa pada hari kiamat nanti tidak ada faedah alasan atau taubat orang-orang yang durhaka. Masa taubat dan menyatakan keuzuran telah berlalu. Penyesalan sudah tidak berguna lagi. Mengapa demikian? Karena hari itu adalah hari pembalasan bukan hari beramal lagi. Dan karena kamu telah mengotori dirimu dengan kekufuran dan bergelimang maksiat di dunia dulu, maka pada hari ni terimalah balasan setimpal akibat perbuatan kamu itu.

Dan setelah menyatakan bahwa taubat pada hari tersebut tidak ada gunanya, maka pada ayat berikut Allah SWT mengingatkan hamba-hambaNya agar segera “taubat nashuha”:


Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kamu kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai

Maksudnya: Dalam ayat ini Allah SWT mengingatkan hamba-hambaNya yang beriman kepadaNya agar segera bertaubat kepadaNya dengan taubat nashuha. Berhenti melakukan dosa dan segera kembali ke jalan yang diredhaiNya. Dengan demikian, Allah akan menghapuskan dosa-dosanya dan memasukkannya ke dalam syurga yang penuh dengan nikmat dan keseronokan.

Nashuha maknanya ikhlas dan murni. Jadi taubat Nashuha maknanya taubat yang memenuhi tiga syarat:


1. Iqlaa’ (meninggalkan dosa)


2. Nadam (menyesali)


3. ‘Azam (bercita-cita untuk tidak mengulanginya lagi).



Dan jika dosanya ada hubungan dengan manusia lain maka syarat yang ke (4) ialah mengembalikan milik orang tersebut atau mohon ampunan kepadanya.

Ibnu Abbas (ra) berkata: Taubat Nashuha ialah seseorang menyesali dosa masa silam yang pernah dilakukannya, memohon ampunan daripada Allah dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi sebagaimana susu tidak lagi kembali ke teteknya (dhar’).
[Dikeluarkan oleh Ibnu Mardawiyah]


Pandangan ini juga diriwayatkan dari Abdullah Bin Mas’ud, Ubay Bin Ka’ab, Al-Hassan dan lain-lain sahabat lagi.

Allah menggunakan kata ( عَسَى ) = mudah-mudahan atau barangkali, dalam ayat di atas yang membawa faedah: sangat mengharapkan ampunan daripada Allah, walaupun Allah telah berjanji akan mengabulkan taubat hambaNya. Ini sebagaimana bandingannya kata-kata Sultan atau Raja: “Sekiranya mereka betul-betul menginginkannya, barangkali (عَسَى ) kami akan kabulkan permohonan mereka.

Makna tersirat dari ayat ini ialah bahwa pengkabulan doa dan pengampunan dosa serta memasukkan mereka ke dalam syurga yang penuh nikmat adalah fadhilat atau kurnia daripada Allah. Jadi peranan taubat kita tidaklah mewajibkan ke atas Allah untuk memberikan senua itu, Oleh itu sewajarnyalah kita selaku hambaNya senantiasa berada dalam keadaan antara takut (khauf) dan harap (raja’), walaupun bagaimana banyaknya ibadah yang sudah kita lakukan.

Kemudian pada ayat berikutnya Allah SWT menjelaskan pula keadaan Nabi dan pengikut yang beriman kepadanya serta tanda-tanda kejayaan yang akan mereka terima di akhirat nanti.



Pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengan dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Tuhan kami sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”

Maksudnya: Pada hari pembalasan nanti Allah akan memberi kemuliaan dan penghormatan serta nikmat yang sempurna kepada Nabi (sallallahu alaihi wasalam) dan umatnya yang setia beriman dan beramal mengikuti syare’atnya. Mereka sekali-kali tidak dihinakan oleh Allah, malahan mereka disinari dengan cahaya dari hadapan ketika mereka berjalan, dan disinari dari arah kanan ketika amalan mereka di hisab, Ini karena mereka menerima buku catetan amalan mereka dari sebelah kanan yang penuh dengan cahaya dan keberkatan.

Ketika itulah mereka memohon kepada Allah: “Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”.

Mereka mohon agar Allah jangan padamkan cahaya mereka ketika melalui titian “Shirathal Mustaqim” sehingga mereka sampai ke dalam syurga dengan selamat. Mereka juga memohon agar Allah tutupi kesalahan-kesalahan mereka, dan jangan didedahkan di khayalak ramai pada hari berhisab.

Mereka memohon demikian karena mereka melihat nasib malang yang menimpa orang-orang munafiq yang Allah padamkan cahaya daripada mereka sehingga tinggal dalam kegelapan. Tidak tahu ke mana hendak dituju, akhirnya tergelincir dari titian dan berjatuhan ke dalam neraka, wal ‘iyadzu billah. Ini sebagaimana dijelaskan oleh Allah (Al-Hadid 57:13):


يَوْمَ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ لِلَّذِينَ آمَنُوا انظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِن نُّورِكُمْ
“Pada hari ketika itu orang-orang munafiq lelaki dan wanita berkata kepada orang-orang yang beriman: “Tunggulah supaya kami dapat mengambil sebahagian dari cahayamu”.



Ukuran cahaya yang akan menerangi seseorang di akhirat nanti sangat bergantung pada amal salehnya. Ada cahaya yang besarnya seperti pokok korma, sebesar badan manusia dan ada pula hanya sebesar ibu jari, itupun berkelip-kelip sesekali bercahaya dan sesekali padam, wal ‘iyadzu billah.

Mereka mengakhiri doa mereka dengan: “Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”. Ini memberi makna bahwa yang mampu dan berkuasa menyempurnakan cahaya kita di akhirat nanti dan mengampuni dosa-dosa kita hanya Allah SWT.




Kesimpulan:


1. Selain mesti memperbaiki diri, manusia juga mesti memperbaiki keluarganya terutama isteri, anak dan pembantunya.



2. Sikap sesetengah muslim yang hanya sibuk memperbaiki diri sendiri tetapi mengabaikan pendidikan iman dan amal saleh keluarganya adalah sikap yang keliru.



3. Faktor utama yang perlu kita miliki supaya terhindar dari siksaan yang pedih ialah kita mestilah memurnikan Tauhid (Akidah) dan mempertingkatkan amal saleh.



4. Taubat dan penyesalan tidak berguna lagi pada hari berhisab nanti karena hari itu pembalasan amal bukan lagi hari beramal. Manusia akan mendapat cahaya sesuai dengan kadar amal masing-masing.



5. Amalkan doa ini selalu:



رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Artinya: Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami, dan ampunilah kami; sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.




Aku hidup dalam kenangan,
Imbauan rindu sering bertandang,
Sumber kekuatan di akan datang.



Sumber artikel/ Rujukan 

Sunday, 27 June 2010

Di Pusara Bonda

 

بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته


Lirik lagu yang amat menyentuh perasaan. Bila ummi mendengar lagu ini, akan ummi hayati senikatanya, pastilah airmata ini mengalir bagai mutiara putus dari karangan. Hayati baik-baik, selepas muat turun. Sementara ibu masih hidup, layan lah mereka seperti raja/ permaisuri. Jika mereka sudah tiada, kita tak akan menyesal. Sila download.







Di Pusara Bonda

Hari yang dilalui kini
Tak seindah semalam
Bintang yang bersinar sudah tiada lagi
Mentari yang terpancar kini semakin suram
Bayangan wajah mu kini tiada lagi

Apa yang harus ditangisi
Penyesalan sudah tiada gunanya
Biar airmata darah ku tumpahkan
Tidak bisa mengubah masa

Kini bonda tiada lagi
Apa yang ada hanya secebis kenangan
Di tabir seribu penyesalan
Kerana belum sempat
Ku menabur budi
Kau pergi menghadap Ilahi

Oh bonda
Ampunilah segala dosa anak mu ini
Bukan sengaja aku mengasari mu
Bukan jua ingin ku sakiti hati mu
Apakan daya diri ini tak terdaya
Menahan gelora yang membara
Akhirnya kau tersiksa sendiri

Bonda
Andainya ku punya waktu
Ingin ku abadikan diri kepada mu
Kerna kasih yang kau curahkan
Belum tentu terbalas
Dengan curahan budi yang ku siramkan






Aku hidup dalam kenangan,
Imbauan rindu sering bertandang,
Sumber kekuatan di akan datang.

Saturday, 26 June 2010

Antara 2 Tawaran

بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Antara Tawaran Ukhrawiah dengan Tawaran Dunia, mana satu pilihan hati,mana satu menawan kalbu?



Sejauh mana pula kita memberi respons terhadap antara 2 tawaran ini? Tawaran ukhawiah dan tawaran keduniaan? Bandingkan kecenderungan atau kemahuan diri kita apabila berhadapan dengan kedua-dua tawaran ini. Yang mana lebih menggiur atau menyelerakan?


Dari sini barulah kita tahu penderian dan sikap kita. Tepuklah dada dan tanyalah iman. Hanya diri sendiri yang mengetahui rahsia peribadi. Bertolak dari ini, barulah kita dapat memperbetulkan halatuju yang perlu diambil untuk keselamatan diri kita di dunia dan akhirat. Harapan kita biarlah kita untung dan bahagia di dunia dan akhirat. Sama-samalah kita berusaha ke arah memperbaiki hidup sepanjang Rejab ini supaya Allah menambahkan ketakwaan dan kekuatan kita untuk melakukan amal ibadat dalam bulan ini.


Sesungguh banyak sekali hadith dan keterangan ulama’ mengenai ganjaran dan kebesaran Rejab. Yang lebih penting bukan setakat menghuraikan kelebihan, tetapi sejauh mana kita mengamalkan atau mengambil peluang dari tawaran Allah ini.


Kalau kompleks membeli-belah mengadakan tawaran istimewa atau jualan murah, kita akan keluar berduyun-duyun seolah-olah berpesta untuk mendapatkan barangan yang ditawarkan. Tetapi adakah begitu tindakan kita apabila Allah membuka tawaran yang Maha Hebat ini.


Satu tawaran yang tiada tolok bandingnya. Satu tawaran yang abadi. Satu tawaran yang menjamin kebahagianaan di dua alam – dunia dan akhirat. Realiti yang kita dapat lihat ialah tawaran Allah kurang mendapat tempat di hati kita. Hanya hati yang disinari dengan iman dapat menghargai tawaran Allah yang abadi ini. Manakala hati yang sudah terpaut dengan kebesaran dunia lebih terpikat dengan tawaran murahan yang bersifat sementara dan tidak kekal.


Di sinilah ujian untuk menilai keimanan kita terhadap perkara ghaib. Ganjaran syurga yang ditawarkan adalah perkara ghaib yang kita tidak nampak. Tetapi penurunan harga baju dari RM90.00 ke RM50.00 jelas dilihat. Oleh kerana kita lebih mengutamakan perkara yang nampak daripada yang ghaib, maka kita berusaha untuk memilih tawaran dunia. Tawaran Allah menjadi amat kecil sehingga tidak berdaya untuk kita laksanakan.


Jadilah fadhilat atau kelebihan Rejab yang kita baca atau dengar seolah-olah satu dongengan yang tidak bermakna dan tidak sikit pun memberi kesan di hati. Apabila sikap begini terserap di dalam hati,tidaklah mampu untuk merealisasikan sesuatu tindakan. Bahkan di dalam al-Quran, Allah menempelak golongan ini seolah-olah ada mata tetapi tidak dapat melihat, ada telinga tidak dapat mendengar dan ada otak tetapi tidak dapat memikirkan.



Allah Maha Melihat atas apa yang kita lakukan. Allah Maha Mendengar atas apa yang kita ucapkan. Allah Maha Tahu atas apa yang kita lintaskan di hati. Allah memberi ganjaran atau balasan berdasarkan sejauh mana kita berusaha menghampirkan diri kepada Allah. Jika kita bersungguh-sungguh beramai mencari keredhaan Allah, Allah akan memberi balasan setimpal dengan usaha yang disumbangkan. Sebaliknya jika di dunia kita tidak begitu ambil pusing akan urusan ibadat, maka sudah tentu Allah tidak akan menpedulikan perihal hidup kita di dunia dan akhirat.



Sebagai tanda Allah mengasihi seseorang, diberikan kesusahan atau bala. Bala adalah ujian untuk melihat sejauh mana kesabaran kita. Sekiranya kita bersabar atau segala kesusahan yang ditimpakan ke atas kita,Allah akan meningkatkan darjat kita. Manusia yang lemah imannya terhadap ujian Allah akan mudah menggelabah dan putus asa. Orang beriman sebenar sama sahaja sama ada diberi nikmat atau tidak.Diberi senang dia bersyukur, ditimpakan susah dia bersabar. Ada wang atau tak ada wang sama saja –kerana kesemuanya berpunca dari Allah




Aku hidup dalam kenangan,
Imbauan rindu sering bertandang ,
Sumber kekuatan di akan datang.



Friday, 25 June 2010

Mabuk dan Cinta

بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته


Dikisahkan dalam sebuah kitab karangan Imam Al-Ghazali bahawa pada suatu hari Nabi Isa a.s berjalan di hadapan seorang pemuda yang sedang menyiram air di kebun. Bila pemuda yang sedang menyiram air itu melihat kepada Nabi Isa a.s berada di hadapannya maka dia pun berkata, "Wahai Nabi Isa a.s, kamu mintalah dari Tuhanmu agar Dia memberi kepadaku seberat semut Jarrah cintaku kepada-Nya." Berkata Nabi Isa a.s, "Wahai saudaraku, kamu tidak akan terdaya untuk seberat Jarrah itu."



Berkata pemuda itu lagi, "Wahai Isa a.s, kalau aku tidak terdaya untuk satu Jarrah, maka kamu mintalah untukku setengah berat Jarrah." Oleh kerana keinginan pemuda itu untuk mendapatkan kecintaannya kepada Allah s.w.t., maka Nabi Isa a.s pun berdoa, "Ya Tuhanku, berikanlah dia setengah berat Jarrah cintanya kepada-Mu." Setelah Nabi Isa a.s berdoa maka beliau pun berlalu dari situ.


Selang beberapa lama Nabi Isa a.s datang lagi ke tempat pemuda yang memintanya berdoa, tetapi Nabi Isa a.s tidak dapat berjumpa dengan pemuda itu. Maka Nabi Isa a.s pun bertanya kepada orang yang lalu-lalang di tempat tersebut, dan berkata kepada salah seorang yang berada di situ bahawa pemuda itu telah gila dan kini berada di atas gunung.


Setelah Nabi Isa a.s mendengat penjelasan orang-orang itu maka beliau pun berdoa kepada Allah s.w.t., "Wahai Tuhanku, tunjukkanlah kepadaku tentang pemuda itu." Selesai sahaja Nabi Isa a.s berdoa maka beliau pun dapat melihat pemuda itu yang berada di antara gunung-ganang dan sedang duduk di atas sebuah batu besar, matanya memandang ke langit.


Nabi Isa a.s pun menghampiri pemuda itu dengan memberi salam, tetapi pemuda itu tidak menjawab salam Nabi Isa a.s, lalu Nabi Isa berkata, "Aku ini Isa a.s." Kemudian Allah s.w.t. menurunkan wahyu yang berbunyi, "Wahai Isa, bagaimana dia dapat mendengar perbicaraan manusia, sebab dalam hatinya itu terdapat kadar setengah berat Jarrah cintanya kepada-Ku. Demi Keagungan dan Keluhuran-Ku, kalau engkau memotongnya dengan gergaji sekalipun tentu dia tidak mengetahuinya."



Barangsiapa yang mengakui tiga perkara tetapi tidak menyucikan diri dari tiga perkara yang lain maka dia adalah orang yang tertipu.

1. Orang yang mengaku kemanisan berzikir kepada Allah s.w.t., tetapi dia mencintai dunia.

2. Orang yang mengaku cinta ikhlas di dalam beramal, tetapi dia ingin mendapat sanjungan dari manusia.

3. Orang yang mengaku cinta kepada Tuhan yang menciptakannya, tetapi tidak berani merendahkan dirinya.


Nabi Muhammad s.a.w. telah bersabda, "Akan datang waktunya umatku akan mencintai lima, lupa kepada yang lima :

1. Mereka cinta kepada dunia. Tetapi mereka lupa kepada akhirat.
2. Mereka cinta kepada harta benda. Tetapi mereka lupa kepada hisab.
3. Mereka cinta kepada makhluk. Tetapi mereka lupa kepada al-Khaliq.
4. Mereka cinta kepada dosa. Tetapi mereka lupa untuk bertaubat.
5. Mereka cinta kepada gedung-gedung mewah. Tetapi mereka lupa kepada kubur."




Aku hidup dalam kenangan ,
Imbauan rindu sering bertandang ,
Sumber kekuatan di akan datang.


Thursday, 24 June 2010

Kenapa mesti ada rindu

بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Rindu.... rindu .... rindu, kuatnya panahan rindu pada setiap insan. Sebenarnya cinta dan rindu tidak dapat di pisahkan seperti irama dan lagu. Dari perasaan cinta membuahkan perasaan rindu yang indah untuk bertemu semula apabila berjauhan. Ia tak mengenal sesiapa, darjat, usia dan keturunan. Apabila sudah terkena penyakit rindu, parahlah dibuatnya kalau tak dikawal hingga terciptalah peribahasa mandi tak basah, tidur tak lena. Begitu kuatnya godaannya rindu.

Apalagi bagi orang yang tengah di lamun cinta asmara, yang tidak pernah menjadi penyair pun akan jadi penyair juga mengubah puisi rindu yang romantis. Hayatilah bait-bait puisi dan gurindam jiwa yang tercipta kerana rindu rendam yang membara:-

"hatiku rindu teramat rindu,
pada belaian kasihsayang mu,
terlalu sepi nya hidup ini
bagaikan bunga tak berseri"

"buat aku cuba nak melupakan
tapi wajahmu terbayang dalam kenangan
sungguh siksanya godaannya rindu
bila berpisah hatiku terharu
kau jauh pandangan,
bila ku kenangkan rindu ganti perasaan"

"dengarlah bisikan hasrat hati,
yang merindu menjelma kembali
ingatan ku yang telah lalu
Ingin bersama sehidup semati"

Begitulah hebatnya dugaannya rindu, mengasyikkan hingga ingin sehidup semati. Terlena kita sebentar hingga tak berpijak di bumi nyata.

Sebenarnya tiada kesalahan untuk kita merindu seseorang kerana ia adalah fitrah manusia yang semulajadi ingin di kasihi dan di rindui. Yang menjadi kesalahan kita meletakkan perasaan rindu yang terlalu tinggi yang tidak kena pada tempatnya hingga kita lalai dan leka bahawa kita hanya hamba yang fana milik Allah jua.

Alangkah baiknya kalau kita tanamkan perasaan rindu yang membara untuk menemui Allah setiap masa dalam keadaan redha dan di redhai. Selama ini kita hanya melaksanakan ibadat yang dituntut tapi tidak menjiwainya sepenuh hati dengan perasaan cinta dan rindu yang mendalam setiap kali munajat dengan Allah. Justeru itu segala amalan dilakukan tiada roh dan kekhusyukkannya. Amalan tinggal amalan tapi tidak meninggalkan bekas untuk meningkatkan iman apalagi melahirkan insan kamil yang takwa.

Alangkah baiknya juga kita dapat menanamkan rasa rindu untuk menatap wajah yang mulia Rasulullah SAW. Rindunya kita sebagai umatnya untuk menemui baginda yang hanya kita tahu sirahnya dan hanya dapat kita ziarahi makamnya saja. Tak rindukah kita untuk dapat mencium tangan baginda dan memeluk jasadnya. Alangkah indahnya perasaan rindu itu datang dalam diri kita agar kita dapat mencontohi sunnah baginda dalam kehidupan seharian.


Jika ingin tahu bagaimana panahan rindu kepada Allah dan rasulNYA,pergilah ke Baitullah,pandanglah ka'abah. Ka'abah adalah rumah Allah. Di situ pasti terdetik rasa rindu yang mencengkam kalbu. Sesiapa yang pernah berkunjung menjadi tetamu Allah ke rumahNYA ini, pasti akan jatuh cinta dan sentiasa rindu. Ini lah rindu yang sebenar-benarnya. Sebab itu sesiapa yang pernah pergi ke sana sentiasa berusaha untuk datang lagi...

Alangkah indahnya rindu itu .....

(Rindu pada ketenangan, rindu pada kedamaian, rindu pada kebahagiaan, .. Rindu kepada ALLAH)

Kepada ALLAH diri berserah, serta mengharap rahmat melimpah. Qada dan qadar diterima mudah. Serta diucap Alhamdulillah.







Aku hidup dalam kenangan ,
mbauan rindu sering bertandang,
Sumber kekuatan di akan datang.


Perkongsian bersama my masjid

Sunday, 20 June 2010

Banyak dalam SATU dalam banyak

بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Jika anda melihat tulisan,apakah sebenarnya yang anda nampak ? Tulisan, perkataan atau dakwat ? Begitu juga anda ada kaki,tangan,hidung , mata, telinga tetapi pada hakikatnya hanya satu iaitu diri anda sendiri. Kadang-kadang ada bayang-bayang mengikuti anda semasa cuaca panas ,  begitu juga anda mungkin bermimpi melihat diri anda sendiri. Walaupun nampak banyak,ianya cuma satu sahaja ; yaitu anda.



Begitu juga air yang membentuk ais atau membentuk ombak.Ia membentuk menjadi bentuk lain apabila sampai pada sesuatu peringkat atau keadaan. Apabila buih berpecah,ia kembali kepada keadaan asalnya. Buih atau ais pada hakikatnya itu adalah air juga. Apabila anda perhatikan ombak, anda tidak nampak air. Ombak adalah bentuk hayalan, hakikatnya adalah air.

Seorang penyair Farsi pernah berkata :
“Aku pergi bersiar-siar di tepi laut dan aku terpandang perkara yang menakjubkan;
kapal dalam laut, laut dalam kapal “

Penyair ini menisbahkan bahawa wujud Allah Ta’ala itu tiada terhad yang diibaratkan seperti laut, manakala kapal itu pula sebagai kewujudan yang terhad.

Allah Ta’ala berfirman :

“ ingatlah bahwa sesungguhnya Dia meliputi segala sesuatu “. Surah Fussilat : 54

Begitu juga diterangkan dalam maksud ayat ini :

“ dua ujung busur panah “ Surah An Najm : 9.

Tempat pertemuan dua busur panah yakni baur panah itu bila ditarik ia bercantum ;
nampak seperti dua tetapi sebenarnya hanya satu.

Syeikh Mahmud Syabistari dalam Gulsyan-i-Raj menyebut,

"Jika anda belah hati satu titik air , Anda dapati seratus lautan di dalamnya"

Inilah hakiqat ainul yaqin dan haqqul yaqin, jika dibelah satu hakikat, semua ilmu ada di dalamnya. Namun hakikat tidak muncul , jikalau syariat dan toriqat tidak betul lagi kedudukannya.


Dialah yang Awal dan yang Akhir yang Zahir dan yang Batin “ Surah Al-Hadid : 3


Apabila tajalli bersinar pada gunung,
Gunung itu hancur dan berkecai seperti kapas,
Apabila tajalli bersinar pada gunung wujud,
Wujud itu bertaburan seperi habuk di atas jalan.

Ini dimaksudkan sebagai wujud salik bertukar kepada tidak wujud,seperti Gunung Sinai yang tidak lagi berupa seperti rupanya dulu.Apabila Nabi Musa mohon melihat Allah, Baginda disuruh melihat gunung lalu gunung itu hancur. Seperti gunung itu juga, Nabi Musa tidak dapat menahan tajalli itu lalu jatuh pengsan ( fana’ ).

Apabila Allah hendak memandang diriNya, maka dipandang pada hati manusia yang diibaratkan seperti cermin.Dia menzahirkan diriNya ( tajalli ) pada cermin (hati ) yang cerah itu.Semakin bersih hati itu, semakin cerahlah bayangan Allah adanya.Bayangan itu adalah satu nama sahaja bukan hulul ataupun penjelmaan.Banyak wajah yang terlihat adalah kerana banyaknya cermin walhal hakikatnya ia tetap satu dan sama sahaja.

Pandangan boleh tembus dalam air tetapi tidak apabila ia menebal menjadi ais.Begitulah terjadi kepada sifat hati yang cerah , yang bersih dengan yang berbintik hitam dan gelap zulmah.

Konsep inilah yang selalu diperkatakan dikalangan mereka yang belajar ilmu hakikat.Ia sekadar menjadi ilmu atau pegangan atau di anggap ilmu yang mendalam tetapi ia tidak menjadi amali dan tidak sampai ke mana jikalau tidak menuruti langkah awalnya iaitu beramal sepertimana Nabi S.A.W beramal bagi mencapai matlamat yang demikian.Bukan setakat menjadi thalib, tetapi melangkah setapak lagi menjadi salik.


Hakikat huruf ' alif ' dan seterusnya ialah noktah, hakikat noktah ialah dakwat ( cecair ), hakikat cecair dari debuan..jika kita melihat dakwat, huruf hilang..dan jika kita melihat huruf, dakwatnya pula hilang...

Oleh kerana itu, pada dasarnya dalam pandangan Ilmu Tesawuf, tidak ada bezanya antara Syariat dan Hakikat atau antara Zahir dan Batin. Kalau perbezaan itu ada, maka adanya itu hanya pada lafadz yg berlainan, tetapi yg satu menyempurnakan yg lain..ibarat Syariat itu pohon dan Hakikat itu buahnya..

Akan tetapi satu syarat adalah mutlaq utk menilai kebenaran mahupun kedustaannya, iaitu harus jgn ada satupun perbuatan mahupun perkataan yg keluar dan menyalahi zahir syariat Islam..

" Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah, dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepadaNya, dan berjihadlah pada jalanNya supaya kamu mendapatkan keberuntungan " ( Q.S. Al Maidah : 35 )..

"Dan ikutilah orang-orang yang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah ' muhtaduun ' (orang yang tetap diatas petunjuk)" ( Q.S. Yaasiin : 21 ).

Mudahan pengertian perjalanan keruhanian menuju lautan cinta dan kasih sayang Allah, yg di paparkan semua kita di sini dapat menyatukan walaupun berbeza tetapi dalam satu kesamaan ( Tauhid )..Kaannahum bunyanun marshush...wallahu'alam..











Aku hidup dalam kenangan ,
Imbauan rindu sering bertandang ,
Sumber kekuatan di akan datang.


Saturday, 19 June 2010

Teka Teki Kehidupan

بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته


Tiba-tiba kepala ummi diilhamkan untuk menulis sesuatu berkaitan kehidupan. Teka teki kehidupan setiap manusia. Perjalanan hidup manusia berbeza antara satu sama lain walaupun kita melalui jalan yang sama , menuju ke destinasi yang sama.


Semalam sudah berlalu. Semalam adalah sejarah yang tak akan berulang kembali. Masa depan pula penuh dengan ketidakpastian. Penuh dengan persoalan.





Siapa pasangan kita? Berapa anak kita? Dimana,kemana dan berbagai lagi persoalan berkaitan kehidupan, namun adakah pernah kita menyoal kemana kita setelah kehidupan di dunia ini?


Ketika  masih kecil, senang rasanya bermain-main dengan air, entah di kolam renang, di sungai yang airnya jernih dan segar, di danau sambil menemani ayah memancing, atau bermain dengan ombak-ombak kecil di pantai. Berdasarkan apa yang kita lihat sepertinya air tetap di tempatnya, air sungai tetap menjadi air sungai, air di danau tetaplah air danau, dan air laut adalah air masin yang entah bagaimana dapat menyusun sebuah ombak yang memecah bibir pantai.

Tanpa kita sadari air tersebut terus mengalir, menuju muara laut di mana mereka akan bertemu dan membuat kitar baru. Tanpa terlihat mata, namun itulah yang terjadi pada setiap percikan air yang membuat hati kita riang.

Demikian pula kehidupan, walaupun masih menjadi suatu misteri namun kita ibaratkan saja kehidupan bagaikan air yang mengalir. Kita tak pernah menebak di mana ia akan berhenti, apa yang akan terjadi di kemudian hari, yang jelas kehidupan juga terus mengalir menuju suatu muara yang telah ditetapkan Yang Maha Kuasa.





Adakalanya kita sering merasa jenuh,bosan dan hampa, seiring dengan aktiviti harian  yang semakin padat, masalah yang datang bertubi-tubi bagaikan ombak yang menerpa pantai di siang hari, tajam, dahsyat dan tak berhenti menyerang. Dari situ kemudian rasa jenuh itu membuat kita merasa ingin berhenti dan membuatnya sebagai akhir, beberapa tindakan tak rasional yang tidak dewasa dilakukan, ada yang meneguk  racun pembasmi serangga (padahal sebenarnya ia tahu abc di ujung jalan lebih segar dan manis rasanya), ada pula yang terjun dari tingkat  sekian sebuah menara (walau saat melihat adegan di TV terasa gayat karena takut), beberapa lainnya menghiris pergelangan tangan yang seharusnya dihiasi dengan kristal,  aksesori yang akan mempercantik dirinya.

Mereka mungkin lupa bahwa air tak pernah berhenti mengalir, walau pada akhirnya bermuara di laut, tetapi air masih mengikuti kitarnya, menguap menjadi awan dan turun lagi ke bumi dalam bentuk hujan atau embun. Sesekali mungkin air tersebut jatuh menerpa bebatuan kapur, granit dan keras, di waktu lain menerpa kelopak bunga indah yang sedang mekar. Kedua hal tersebut boleh memiliki sisi berlainan, yang menurut kita jatuh di atas batu granit berarti sebuah duka dan di atas kelopak bunga ibarat rasa suka. Suka maupun duka, air tersebut tetap akan mengalir menuju muara dan kembali mengikuti kitarnya, itulah yang harus kita sadari dan kita pegang selalu.

Hidup kita boleh berada dalam duka, ataupun di dalam suka, tertawa dan merasa bahagia, atau menangis merasakan derita, namun tetaplah bersemangat dan mengikuti ke mana kehidupan mengalir ke muara. Di situlah letak seni dan kebahagiaan sejati berada, di mana kita dapat menjadi berarti dan mampu menikmati setiap hal yang kita dapat di setiap kita berpijak.




Aku hidup dalam kenangan,
Imbauan rindu sering bertandang,
Sumber kekuatan di akan datang.




Monday, 14 June 2010

Siapa Allah di Hati Kita?


بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
 

Bila soalan ini ditujukan kepada kita, apa yang mampu kita jawab? Adakah ALLAH dekat dan rapat dengan kita? Adakah kita sentiasa bergantung harap dan mengingatiNYA setiap masa?


Untuk menjawab soalan ini, kita seharusnya bertanya kepada diri kita terlebih dahulu ‘SIAPA KITA?’. Siapa kita sebenarnya? Siapa kita di sisi ALLAH, Khaliq kita? Adakah kita sangat bagus di pandangan ALLAH? Siapa kita? Seorang anak? Seorang pelajar? Seorang guru? Seorang peguam? Seorang petani? Seorang doctor?




Jawapan yang paling tepat ialah kita sebenarnya HAMBA ALLAH...


Hamba Allah yang telah diberikan kesempatan hidup untuk menikmati kehidupan yang sementara di dunia fana ini. Oleh kerana itu, kita sebagai hambaNYA semestinya perlu melaksanakan segala suruhan dan meninggalkan segala laranganNYA. Sebagai seorang hamba juga, kita mesti patuh, taat dan setia kepada pencipta iaitu ALLAH. Sesungguhnya Allah telah berkata di dalam kitabNYA (AL-QUR’AN) :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
(الذاريات : 56)

Bermaksud:
"Dan tidak AKU jadikan Jin dan Manusia itu melainkan untuk beribadat kepadaku."


Tidak lain dan tidak bukan, ALLAH telah menciptakan kita semata-mata untuk beribadat kepadaNYA, bukan untuk melupakanNYA atau hanya berharap dan memohon pertolongan di kala kesusahan sahaja.


Seterusnya, tanya soalan ini kepada kita : Di mana kita di hadapan ALLAH?


Di manakah sebenarnya kita di hadapan ALLAH? Apakah nilai kita di sisi ALLAH? Kita dapat memperolehi jawapannya jika kita menilai kembali nilai usaha kita untuk mendekatkan diri kepada Allah. Adakah kita sentiasa mendekatkan diri, akrab, rapat dengan ALLAH?


Sejauh manakah usaha kita untuk mengenali Pencipta kita? Solat lima waktu yang telah difardhukan, adakah kita telah berjaya sempurnakannya? Atau, adakah kita lewat dalam melaksanakan segala perintah ALLAH? Solat-solat sunat bagaimana pula?


Dan seharusnya perlu diingat, untuk dekat dengan ALLAH, kita semestinya terlebih dahulu perlu memulakannya. Ini kerana Allah lebih mengasihi hamba-hambaNYA yang memohon do’a dan pertolongan dengan hati yang ikhlas dan penuh mengharap. Sepertimana yang telah termaktub di dalam Al-Qur’anul Karim :

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُواْ لِي وَلاَ تَكْفُرُونِ
(البقرة : 152)


Bermaksud:
"Oleh itu ingatlah kamu kepadaKu (dengan mematuhi hukum dan undang-undangKu), supaya Aku membalas kamu dengan kebaikan; dan bersyukurlah kamu kepadaKu dan janganlah kamu kufur (akan nikmatKu)."


Sebagai seorang hamba, sesungguhnya ALLAH telah menciptakan kita dengan sebaik-baik kejadian. Ini kerana, badan kita terdiri daripada 4 komponen asas iaitu :

1) Jasad
2) Roh
3) ‘Aqal
4) Nafsu


Kesemua komponen ini saling memerlukan dan saling melengkapi. Jika tiada salah satu di antaranya, maka akan rosaklah seorang insan itu.


Makanan Roh adalah Ibadat.
Makanan ‘Aqal adalah ‘Ilmu
Makanan jasad…anda semua pasti tahu.


Nafsu pula berkait dengan jasad. Jika makanan jasad baik,maka akan baiklah nafsu itu. Disebabkan itulah kita sentiasa diingatkan untuk makan makanan yang halal dan tidak makan terlalu banyak.

Misi hidup kita:

1) Beribadah kepada Allah.
2) Menjadi khalifah


وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُواْ أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاء وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لاَ تَعْلَمُونَ
(البقرة :30)


Bermaksud:
"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada Malaikat; "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi". Mereka bertanya (tentang hikmat ketetapan Tuhan itu dengan berkata): "Adakah Engkau (Ya Tuhan kami) hendak menjadikan di bumi itu orang yang akan membuat bencana dan menumpahkan darah (berbunuh-bunuhan), padahal kami sentiasa bertasbih dengan memujiMu dan mensucikanMu?". Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui akan apa yang kamu tidak mengetahuinya".


Destinasi hidup kita:
SYURGA atau NERAKA??

Semoga kita beroleh manfaat daripada artikel ini insya Allah..
Wassalam




Aku hidup dalam kenangan,
Imbauan rindu sering bertandang,
Sumber kekuatan di akan datang.





Sunday, 13 June 2010

"Di mana Allah?"


بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته



Bagaimana jika kita soalannya begini "apakah persoalan 'di mana Allah' itu termasuk dalam perkara cabang? Dan bagaimana pula dengan aqidah kebanyakan(orang awam) yang tidak langsung mengetahui mengenai perkara ini(samada persoalan Allah itu ada di mana mana / Allah bersemayam diarash)?



Apakah jawapan yang kita, bagi menjawapnya?









Dari Laman Ilmu dan Ulamak Blogspot, ummi temui jawapan ini.


Perkara tentang Allah tidak harus sesiapa pun memandai-mandai tentangnya. Jawapan yang soheh bagi segala persoalan tentang Allah ialah yang terbit dari al-Quran dan al-Hadith. Termasuklah persoalan "Di mana Allah?".


Kita tidak boleh menjawab dengan hanya logik akal, sebaliknya hendaklah menjawab dengan jawapan yang diberikan al-Quran dan Hadith. Persoalan "Di mana Allah?" bukan persoalan cabang kerana ia disentuh oleh banyak ayat al-Quran dan Hadith Nabi s.a.w...


Kerana itu persoalan tersebut wajib dipelajari oleh umat Islam dengan mengetahui jawapannya dari penjelasan al-Quran dan as-Sunnah, bukan penjelasan ahli falsafah atau ahli kalam kerana aqidah Islam terasnya adalah wahyu, bukan akal atau ramalan atau rasa hati.


Wallahu a'lam. 


Jawapan yang ummi temui di Laman Mufti Melaka :


Bismillahirrahmanirrahim.
Alhamdulillah. Salawat dan salam ke atas Rasulullah S.A.W.




Firman Allah Ta'ala yang bermaksud:
"Sesungguhnya Tuhan kamu itu Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, kemudian ia istiwaa (bersemayam) di atas 'Arsy".(Al-A'raf :54).


Rasulullah SAW pernah mengajukan pertanyaan kepada seorang budak perempuan milik Mua'wiyah bin Al-Hakam As-Sulamy sebagai ujian keimanan sebelum ia dimerdekakan oleh tuannya yaitu Mu'awiyah ;  Artinya:

"Beliau bertanya kepadanya : "Di manakah Allah ?. Jawab budak perempuan : "Di atas langit. Beliau bertanya (lagi) : "Siapakah Aku ..?". Jawab budak itu : "Engkau adalah Rasulullah". Beliau bersabda : "Merdekakan ia ! .. karena sesungguhnya ia mu'minah (seorang perempuan yang beriman)".
 

Beriman kepada Allah Ta'ala adalah satu daripada rukun iman yang enam yang wajib tetap dalam hati seseorang tanpa becampur syak dan keraguan.Beriman dengan kewujudan Allah Ta'ala ialah dengan mengiktiqadkan Allah dengan iktiqad (pegangan) yang jazam (pasti dan tetap) bahawa Allah Ta'ala yang mencipta dan mentadbir semua benda dan perkara dalam alam ini (rububiyyah), Dialah yang berhak disembah (uluhiyyah), Dia memiliki nama-nama yang agung (asma' al-Jalal)dan mempunyai segala sifat kesempurnaan (sifat al-Kamal) dan Maha Suci dari sifat-sifat kekurangan (Asma' Allah dan sifat-sifatnya).



Kewujudan Allah Ta'ala bukanlah sebagaimana kewujudan alam yang huduth (baharu) yang menerima perubahan, permulaan dan kesudahan, kerana zat dan sifat Allah adalah qadim (tiada permulaan) dan baqa' (tiada kesudahan).


Bagi menjawab persoalan di mana Allah Ta'ala, berbalik kepada dalil al-Qur'an dan Hadith di atas dapatlah dinyatakan bahawa Allah Ta'ala istawaa di atas 'arasy-Nya yang tinggi (Dzat Allah istiwaa/bersemayam di atas 'Arsy-Nya yang sesuai dengan kebesaran-Nya, sedangkan ilmu-Nya berada dimana-mana/tiap-tiap tempat tidak satu pun tersembunyi dari pengetahuan-Nya). Imam Malik apabila ditanya "Bagaimana caranya Allah istiwaa di atas 'Arsy ?. Beliau menjawab :
 
Artinya:
"Istiwaa itu bukanlah sesuatu yang tidak dikenal (yakni telah kita ketahui artinya), tetapi bagaimana caranya (Allah istiwaa) tidaklah dapat dimengerti, sedang iman dengannya (bahwa Allah istiwaa) wajib, tetapi bertanya tentangnya (bagaimana caranya) adalah bid'ah".


Wallahu Tabaraka Wata'ala a'lam.




Aku hidup dalam kenangan,
Imbauan rindu sering bertandang,
Sumber kekuatan di akan datang.


Saturday, 12 June 2010

Menangkis Bisikan Jahat


بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Bisikan-bisikan yang masuk dalam hati kita tidaklah kita berdosa kerananya kerana ia di luar kehendak kita. Sabda Nabi Sallallahu ‘alaihi wasallam-;  “Sesungguhnya Allah tidak mengambil kira dari umatku apa yang dibisikkan oleh dirinya selagi ia tidak menuturkannya atau tidak melakukannya”.  

(HR Imam al-Bukhari dari Abu Hurairah  radhiyallahu ‘anhu-).




Dari hadith dapat kita fahami bahawa; suatu kejahatan yang dibisikkan oleh hati kita belumlah dikira dosa ke atas kita selagi kita tidak menzahirkannya sama ada dalam bentuk ucapan atau amalan/perbuatan.

Bisikan-bisikan jahat itu janganlah dihiraukan atau diambil peduli. Sabda Rasulullah; “Syaitan akan datang kepada salah seorang dari kamu dan bertanya kepadanya (untuk menimbulkan kesangsian); ‘Siapakah yang mencipta makhluk sekian dan sekian? Hingga akhirnya ia bertanya; ‘Siapa pula yang mencipta Tuhan kamu?’. Maka apabila sampai ke tahap itu, hendaklah ia memohon perlindungan Allah (dari bisikan Syaitan itu) dan hendaklah ia berhenti”. (HR Imam Muslim dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu-).

Dalam hadis ini Rasulullah mengajar kita bagaimana menghadapi bisikan keraguan dari Syaitan khususnya yang menyentuh tentang zat Tuhan, iaitu dengan kita segera menohon perlindungan dari Allah dan berhenti dari melayani bisikan itu. Berkata Imam an-Nawawi; maksud ungkapan baginda “…hendaklah ia memohon perlindungan Allah (dari bisikan Syaitan itu) dan hendaklah ia berhenti…” ialah; “Apabila Syaitan membentangkan bisikan tersebut kepadanya, hendaklah ia segera berlindung kepada Allah untuk menangkis kejahatan Syaitan itu dan hendaklah ia berpaling dari memikirkan bisikan itu. Hendaklah ia menyedari bahawa itu adalah bisikan Syaitan dan Syaitan sentiasa mencari jalan untuk merosakkan manusia dan menyesatkannya. Maka hendaklah ia berpaling dari memberi perhatian kepada bisikan Syaitan itu dan segera memutuskannya dengan menyibukkan diri dengan perkara lain” (Imam an-Nawawi, Syarah Soheh Muslim, juz. 2, kitab al-Iman, bab Bayan al-Waswasah fi al-Iman wa ma yaquluhu man wajadaha).


Di antara doa yang amat baik untuk dibaca untuk memohon perlindungan dari Allah bagi diri –selain dari lafaz al-Isti’azah- ialah doa di akhir surah al-Baqarah;


رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِن نَّسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْراً كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَا لاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنتَ مَوْلاَنَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ


“Wahai Tuhan kami! janganlah Engkau menghukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Wahai Tuhan kami! janganlah Engkau pikulkan ke atas Kami bebanan yang berat sebagaimana yang telah Engkau pikulkan ke atas orang-orang yang terdahulu dari kami. Wahai Tuhan kami! janganlah Engkau bebani kami dengan apa yang Kami tidak terdaya menanggungnya. Dan maafkanlah kesalahan kami, serta ampunkanlah dosa kami, dan berilah rahmat kepada kami. Engkaulah penjaga kami, oleh itu, bantulah kami untuk mencapai kemenangan terhadap orang-orang kafir”. (Surah al-Baqarah, ayat 286).



Wallahu a’lam.



Rujukan;
1. Tafsir al-Quran al-Adziem, Imam Ibnu Kathir, surah al-Baqarah ayat 284.
2. Syarah Soheh Muslim, Imam an-Nawawi, juz. 2, kitab al-Iman.




Aku hidup dalam kenangan,
Imbauan rindu sering bertandang,
Sumber kekuatan di akan datang.




Friday, 11 June 2010

Pentingnya Aqidah

بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته


Iman adalah harta yang sangat bernilai. Ia bukan sesuatu yang boleh diwarisi atau dijual beli. Ia adalah anugerah Allah yang patut disyukuri dan dipelihara.
 
Kerana itulah, Nabi Yaaqub alaihissalam sekalipun bernasabkan para Nabi dan memiliki keturunan juga di kalangan para Nabi cukup bimbang akan keselamatan akidah anak cucu baginda. Ini diceritakan di dalam al-Quran surah al-Baqarah ayat 133 yang maksudnya:

(Demikianlah wasiat Nabi Yaaqub, bukan sebagaimana yang kamu katakan itu wahai orang-orang Yahudi) Kamu tiada hadir ketika Nabi Yaaqub hampir mati, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: Apakah yang kamu akan sembah sesudah aku mati? Mereka menjawab:Kami menyembah Tuhanmu dan Tuhan datuk nenekmu Ibrahim dan Ismail dan Ishaq, iaitu Tuhan Maha Esa, dan kepada-Nyalah sahaja kami berserah diri (dengan penuh iman).

Kerana akidah juga, para Nabi dan rasul sanggup menerima apa jua rintangan dan bebanan demi memperjuangkannya. Dari Nabi Adam alaihissalam hinggalah kepada Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam semuanya telah berusaha memelihara akidah umat mereka agar tidak terpesong ke jalan sesat. Penghijrahan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dari Mekah ke Madinah umpamanya bertujuan untuk membentuk umat Islam yang baru berpegang kepada ajaran agama Islam.

Kepentingan akidah dan perjuangan mempertahankannya ada disebutkan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh al-Imam Muslim dari Abu Hurairah radiallahu anhu yang bermaksud:Rasulullah sallallahu alaihi wasallam ditanya:Apakah amal yang paling utama? Rasulullah menjawab:Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Baginda ditanya lagi, kemudian apa? Baginda menjawab:Jihad fi sabilillah.

Akidah yang merupakan simpulan iman akan menyuntikkan semangat perjuangan, menyuburkan daya saing dan memupuk perpaduan di kalangan umat Islam. Ini kerana, iman yang tersimpul erat di dalam hati mendorong seseorang untuk berusaha, bekerja keras, melakukan kebajikan, membantu orang, membina kemajuan, menunaikan tanggungjawab, sanggup berkorban dan sebagainya demi mengaut seberapa banyak pahala kebajikan.

Umat Islam yang tidak mempunyai akidah yang kukuh akan mudah terpesong dan menyeleweng dari ajaran agamanya yang sebenar. Bukan itu saja, ia akan menjadi anggota masyarakat yang tamak kerana cintakan dunia, pengecut kerana takutkan manusia, liar kerana tiada pegangan, tidak jujur kerana tidak mengenal dosa dan membawa pelbagai lagi masalah dan kerosakan yang merugikan pelbagai pihak.

Begitu juga segala pembangunan dan kemajuan yang dibina oleh umat Islam, jika tidak didasari oleh kekukuhan akidah, ia hanya akan membawa kepada pelbagai kekalutan di tengah-tengah masyarakat. Ini kerana, akidah adalah asas kepada kesejahteraan dan petunjuk dari Allah.

Ini dijelaskan dalam fiman Allah subhanahu wataala dalam surah al-Anaam ayat 82 yang tafsirnya:Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur-adukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan merekalah orang-orang yang mendapat hidayah dan petunjuk.

Akidah juga adalah tunjang segala amalan dan benteng pertahanan yang kukuh daripada segala perkara yang merosakkan. Jika akidah seseorang itu tidak betul, maka segala amalan yang dilakukannya menjadi sia-sia belaka, manakala di akhirat pula akan dimasukkan ke dalam api neraka.

Firman Allah subhanahu wataala dalam surah al-Anbiyaa ayat 94 yang tafsirnya: Dengan yang demikian, sesiapa yang mengerjakan sesuatu amal kebaikan, sedang ia beriman, maka tidaklah disia-siakan amal usahanya; dan sesungguhnya Kami tetap menulisnya.

Namun kepentingan akidah kurang diambil perhatian oleh sebilangan umat Islam masa kini. Mereka lebih bimbangkan nasib anak bangsa dan anak cucu mereka akan menjadi miskin harta dan tanah setelah mereka tiada nanti.

Tetapi adakah ramai dari kalangan umat Islam yang bimbangkan nasib anak cucu mereka jika mereka miskin iman dan jiwa? Kita yang berada di akhir zaman ini, sepatutnya lebih bimbang lagi akan keutuhan akidah anak-anak kita. Kita patut insaf betapa pentingnya akidah dalam menentukan nasib dan maruah bangsa.

Sebagai umat Islam yang inginkan kesejahteraan hidup di dunia dan keselamatan di akhirat, kita hendaklah menjadi masyarakat Islam yang memelihara dan menegakkan akidah dan syariat Islam. Bagi memelihara dan memperkukuhkan akidah pula ia hendaklah dibina atas dasar iman yang kukuh, dibajai dengan ilmu dan amal serta dipelihara dari dicemari oleh sebarang serangan anasir dan gejala penyelewengan dan kesesatan.

Berdoalah di samping segala usaha yang lain dalam mempertahankan keutuhan akidah Islam. Sabda Nabi sallallahu alaihi wasallam daripada Ali radiallahu anhu yang bermaksud: Doa adalah senjata orang mukmin, tiang kepada agama dan cahaya kepada langit dan bumi.(Riwayat al-Imam al-Hakim).




Aku hidup dalam kenangan,
Imbauan rindu sering bertandang,
Sumber kekuatan di akan datang.



Thursday, 10 June 2010

Mengurus Dan Membersihkan Hati

بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته



Hati ibarat ketua dalam diri anda manakala anggota tubuh adalah pekerjanya. Jika kuat ketuanya, maka pekerjanya juga akan kuat. Begitu juga apabila ketuanya positif dan berwawasan maka pekerjanya juga positif dan aktif bergerak merealisasikan wawasan ketua.



Setiap manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah hati yang suci murni. Namun jika hati tidak diurus dan dijaga dengan bersungguh-sungguh, ianya secara semulajadinya amat mudah dikotori dan dicemari. Namun, bagaimanakah caranya menguruskan dan membersihkan hati? Berikut adalah cara terbaik yang dianjurkan untuk membantu kita menyucikan kembali hati yang kurang jernih.

Sebagaimana hadis Riwayat Muslim:
“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada tubuh badan kamu, tidak juga kepada rupa kamu tetapi ia melihat kepada hati dan amalan kamu”.


1. Banyak meluangkan masa untuk muhasabah diri.

Waktu terbaik untuk muhasabah diri adalah selepas selesai solat fardhu. Ambillah sedikit masa untuk duduk diam seketika selepas selesai solat dengan melihat dan merenung kembali kekurangan dan kelemahan yang wujud dalam diri. Mengingati kekurangan dan kelemahan bukanlah untuk disesali tetapi untuk diperbaiki.

Waktu yang terbaik juga untuk muhasabah diri adalah beberapa ketika sebelum terlelap pada waktu malam. Soalan yang harus ditanyakan dalam diri ialah “ Apa yang sudah saya lakukan sepanjang hari ini?”


2. Terima hakikat tiada kejayaan sebenar di dunia ini.

Terimalah hakikat bahawa kejayaan di dunia ini bukanlah ukuran kejayaan yang hakiki, sebaliknya kejayaan sebenar adalah apabila kita bertemu dengan Allah SWT, kita dikurniakan syurga. Kejayaan yang dikecapi di dunia adalah subjektif, dan ianya berbeza mengikut individu. Hati akan mudah terubat apabila kita membisikkan “ tidak ada yang sempurna di dunia ini,” apabila menemui kegagalan di dalam sesuatu usaha.


3. Berusaha mendapatkan ilmu berkaitan diri sendiri

Ramai yang tidak percaya akan kewujudan dan kepekaan pancaindera yang keenam iaitu “pandangan mata hati”. Namun begitu, ilmu berkaitan dengan diri sendiri mudah diperoleh jika kita menggunakan pancaindera ini, dan dengannya juga kita mampu melihat dan menilai segala kekuatan dan kelemahan yang ada dalam diri. Namun bagaimanapun pancaindera ini akan lebih efektif sekiranya diri kita selalu dekat dengan Allah dan patuh kepada setiap perintah-Nya.


4. Belajar daripada orang lain.

Belajar daripada orang lain adalah sebahagian daripada proses kehidupan dan perkembangan seseorang manusia. Proses pembelajaran ini akan lebih berkesan dengan melihat setiap perkara yang berlaku di sekeliling dengan kaca mata seorang pelajar dan digabungkan dengan pandangan mata hati hendak belajar. Melalui proses inilah segala yang buruk dapat dijadikan pengajaran untuk dihindari manakala perkara baik yang ditemui, tempuhilah sebagai pedoman untuk terus memperbaiki diri. Ingatlah, orang yang bijaksana menjadikan semua perkara di sekelilingnya sebagai tempat belajar dan sentiasa memperbaiki kualiti hatinya.





Aku hidup dalam kenangan,
Imbauan rindu sering bertandang,
Sumber kekuatan di akan datang.





Bukan Milik Kita


بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته



DALAM meniti liku-liku kehidupan ini, kita seringkali berasa kecewa. Kecewa kerana sesuatu yang terlepas dari genggaman tangan, keinginan yang tidak kesampaian, kenyataan yang tidak dapat diterima.. dan akhirnya ia mengakibatkan sesuatu yang mengganggu jiwa dan perasaan.Hidup ini ibarat sebuah belantara.




Tempat kita mengejar segala keinginan dan sememangnya manusia diciptakanNya mempunyai kehendak dan keinginan. Namun, tidak semua yang kita inginkan akan tercapai, tidak setiap yang kita idamkan mampu menjadi realiti. Dan, bukan sesuatu yang mudah untuk menyedari dan menerima kenyataan bahawa apa yang bukan menjadi milik kita tidak perlu kita tangisi.


Ramai orang yang tidak sedar bahawa hidup ini tidak punya satu hukum iaitu kita mesti berjaya, mesti bahagia atau yang lainnya.Berapa ramai orang yang berjaya tetapi lupa bahawa segalanya adalah pemberian Allah yang Maha Pemurah sehingga kejayaan itu membuatnya sombong dan bertindak mengikut nafsunya. Begitu juga kegagalan sering tidak dihadapi dengan tenang dan sabar sedangkan dimensi tauhid dari kegagalan adalah tidak tercapainya apa yang memang bukan hak kita.


Apa yang memang menjadi hak kita di dunia, pasti akan Allah tunaikan. Namun apa yang memang bukan milik kita, ia tidak akan mungkin kita miliki, walaupun ia mungkin telah menghampiri kita, walaupun kita telah bermati-matian mengusahakannya. Seorang mukmin tidak akan bersedih ketika ditimpa musibah, malapetaka, dan sebagainya. Tetapi dia bersyukur kepada Allah dan menjadikan musibah itu sebagai peringatan dari Allah terhadap dirinya.


Oleh itu, bila seorang mukmin merasa sedih ketika ditimpa musibah, maka dia bukan mukmin sejati. Sebab, apa pun musibah yang menimpa seorang mukmin, selalu menguntungkan dirinya, sebagaimana sabda Rasulullah dalam sebuah hadis: "Sungguh menakjubkan. Urusan orang mukmin selalu menjadi hal yang menguntungkan bagi dirinya. Dan yang demikian itu hanyalah dialami oleh seorang mukmin."

Seorang mukmin bila ditimpa kesusahan, dan dia mengingat Allah, dengan jalan itu itulah dia akan memperoleh jalan penyelesaian yang terbaik. Dia tidak merasa tekanan batin dalam bentuk apapun, kerana penderitaan yang paling berat sekalipun, pasti ada jalan penyelesaiannya. Seorang mukmin adalah selalu mengingati Allah dalam keadaan ditimpa penderitaan yang amat sangat sekalipun, baik dengan mengucapkan tasbih, takbir, istighfar, doa mahupun dengan membaca Al-Quran, sehingga membuat jiwanya bersih, bening, perasaannya tenang dan tenteram.

Rasulullah SAW pun bersabda: "Ingat akan Allah adalah penawar kalbu," diriwayatkan oleh Ad-Dailami oleh Anas.

Maka wahai jiwa yang sedang gundah berduka lara, dengarkan firman Allah SWT;" Boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagi kalian. Dan boleh jadi kalian mencintai sesuatu, padahal ia amat buruk bagi kalian. Allah Maha Mengetahui kalian tidak mengetahui."(QS. Al-Baqarah 216)

Maka setelah ini wahai jiwa, jangan kau hanyut dalam dalam nestapa yang berpanjangan terhadap apa-apa yang terlepas dari genggamanmu, dari dakapanmu. Kita lihat di sekeliling kita, kemudian cerminlah diri sendiri. Andai kita tidak kenal siapa yang ada di dalam cermin itu, mulai hari ini ada baiknya kita mulakan mencari diri sendiri.

Manusia yang mulia adalah yang menyedari dengan sepenuh hati bahawa dia hanyalah hamba, benar-benar hamba, dalam pengertian hamba yang sebenar-benarnya, baik secara teori mahupun praktikal. Dia hanya berfikir bagaimana memberikan yang terbaik bagi kehidupan ini, semata-mata mengharap cintaNya, keredhaanNya, dan lebih dari itu kerana dia mencintai Allah, terpesona kepada keindahan Maha Pencipta, mabuk kepayang dengan kecantikan Maha Pemurah.

Andai ternyata keinginannya tidak selari dengan keinginan Allah SWT, ternyata apa yang diharapkannya esok hari tidak menjadi nyata, malah yang terjadi adalah sesuatu yang sebaliknya, maka kita mesti tetap ikhlas. Kita menerima semuanya dengan senyum yang mengembang, dengan redha yang tidak terhitung. Hidupnya hanya untukNya. DIAlah tujuan hidup, sebaik-baik tujuan hidup. Sedang yang lainnya adalah wasilah, alat, bekal, modal untuk mencapai keredhaan Allah SWT.

Maka, jangan kau tangisi apa yang bukan milikmu. Kerana, ia memang bukan milikmu! Maka, bersihkan hatimu, ikhlaslah.. redha dengan ketentuanNya. Kerana, kita ini adalah sebenar-benar hamba, Moga kita lebih kuat dan dekat kepadaNya.



Aku hidup dalam kenangan,
Imbauan rindu sering bertandang,
Sumber kekuatan di akan datang.



Wednesday, 9 June 2010

Merindu tanpa kata

بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته


Merindu tanpa kata. Hati ini terlalu merindui embunku. Pelik. Kenapa bila rindu air mata akan menjadi terlalu murah. Mudah saja mengalir. Dalam 3 bulan ini fikiran asyik terbayangkan kenangan bersama embunku. Apa khabarkah embunku sekarang? Kenapa embun berubah? Tidak ingatkan embunku pada kenangan masa bersama-sama suatu ketika dulu walaupun singkat tetapi ianya berkualiti dan amat bermakna buat ku.


Bagaimanakah embunku sekarang ini? Sungguh kerinduan ini tidak dapat dikiaskan dengan apa pun jua. Setiap kali rindu datang, pantas mata singgah merayapi setiap ayat di wall FBnya. Berulang kali dibaca entri yang sama.


Hidup untuk mempersembahkan segala yang terbaik, iaitu yang bermakna untuk dunia dan bererti untuk akhirat. Bukan mudah untuk mengotakan kata-kata tersebut. Tidak semudah untuk menaip huruf-huruf dan bersatu menjadi ayat yang indah.

Selalu kita pincang. Bila mana terbaik untuk dunia, rupanya jauh dari terbaik untuk akhirat. Juga bila dirasakan terbaik untuk akhirat, kita kepincangan untuk hal-hal dunia. Perlu untuk mempersembahkan yang terbaik dalam apa jua yang diperbuat. Kerana dunia hanya bersifat sementara, kebermaknaan kehidupan dunia adalah kelangsungan yang bererti untuk akhirat yang kekal abadi.

Untuk menjadi insan yang mempersembahkan terbaik tidak memerlukan hal yang bagus-bagus belaka. Juga tidak memerlukan pengorbanan yang sebegitu besar kerana hakikatnya manusia penuh dengan kepincangan. Hanya perlukan satu tekad dan sejumlah istiqamah. Lantaran bila adanya kedua-dua intipati ini, segala hal akan menghasilkan yang terbaik untuk dunia dan akhirat.

Umpama meletakkan diri dalam tempias rindu. Keharuman kasih sayang itu mampu membuatkan masa terhenti dan jiwa pun terbang tinggi. Nikmatilah kasih sayang seadanya, kerana itu yang membuatkan dunia bermakna, namun himpunlah sejumlah tekad dan keberterusan agar dunia tidak dirasakan milik.


Masih lagi ada ruangan kosong yang dihuni insan-insan penting yang lain. Agar juga kealpaan dalam menikmati rindu tidak membawa sesautu yang terburuk untuk akhirat. Moga-moga kebahagiaan kasih sayang itu berterusan ke taman-taman syurga... 




Aku hidup dalam kenangan,
Imbauan rindu sering bertandang,
Sumber kekuatan di akan datang.




Tuesday, 8 June 2010

Indahnya Hidup Ini

بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته




Hiduplah Sesuka hatimu,Sesungguhnya kamu pasti mati.Cintai siapa saja yang kamu senangi,   Sesungguhnya kamu pasti akan berpisah dengannya. Lakukan apa saja yang kamu kehendaki,  Sesungguhnya kamu akan memperolehi balasannya.


Alangkah indahnya hidup ini dalam perkiraan Allah. Setiap hari mengikut rutin 24 jam dari seawal terbukanya mata setelah dimatikan sekejap dan kemudian tertutup lagi untuk menikmati perjalanan malam yang panjang. Dan dengan harapan moga-moga mata ini akan berpelung lagi menatap cantiknya kehidupan yang terbentang luas.


Meniti berhati-hati ruang lurus perjalanan, ada kala bengkok juga. Sedaya mungkin cepat-cepat berada di garisan lurus kembali. Dengan seorangnya ‘diri’ bertemankan akal dipandu iman...moga hari-hari seterusnya lebih indah dan mendamaikan.


“Bila kau memandang segalanya dari Allah, yang menciptakan ujian, yang menyebabkan sakitnya hatimu, yang menyebabkan keinginanmu terhalang, Maka damailah hatimu kerana masakan Allah sengaja mentadbirkan segalanya untuk sesuatu yang sia-sia.


Bukan Allah tidak tahu derita hatimu tetapi mungkin itulah yang Dia mahukan kerana Dia tahu hati yang sebegini selalunya lebih lunak dan mudah untuk dekat dan akrab dengan-Nya"


Embunku, emakmu ini amat merindui gurau senda yang pernah emak lalui bersamamu. Ingin emak imbas masa-masa lalu dan menjadi statik disitu. Tidak ingin emak bergerak kehadapan dan meninggalkan embun emak kesepian. Namun hidup perlu diteruskan. Emak mempunyai tanggungjawap yang lain juga. Kini tanggungjawap itu telah emak laksanakan dan sekarang emak menunggu janji-janji embun emak.


Emak akan terus menunggu dinihari, walaupun kini emak tidak lagi ingin menampilkan diri. Emak sembunyi di sebalik tabir malam menanti turunnya embun ke hati emak. Emak akan terus menunggu sehingga roh dan jasad berpisah menuju Allah.



Aku hidup dalam kenangan,
Imbauan rindu sering bertandang,
Sumber kekuatan di akan datang.



Monday, 7 June 2010

Dunia hanya pinjaman




Masih sedih lagi...
Banyak kenangan bersama-sama yang disayangi...
Mereka datang dan pergi...
Bersama-sama angin yang sepi...



Dunia hanya pinjaman. Kematian itu sesuatu yang pasti. Sesungguhnya, bertemu detik dan masa itu, tak akan mampu untuk kita menangguh atau memajukannya walau untuk sesaat pun. Telah tersedia di perut bumi itu tempat-tempat kesudahan kita tetapi bilakah saat kembali itu?. Hanya DIA yang tahu segalanya.








Setiap dari kita telah ditentukan waktu kembalinya menghadap kekasih sejati, Allah Yang Maha Kaya. Dalam menjalani hidup seharian, kadang kita terleka untuk melihat dan berkira-kira andainya kematian itu menjemput kita pada saat kita bergelak-gelak ketawa. Kita lupa untuk mengingati bagaimana saatnya bila dicabutnya nyawa dari tubuh yang dipinjamkan-Nya ini.


Jikalaulah kita dapat membayangkan bila mana kita sudah tidak mampu untuk bernafas lagi. Menyedut udara pun kita tidak mampu. Jikalaulah kita tahu bila saat itu akan tiba, pastinya yang paling utama kita meminta kepada Allah agar memberi kita peluang. Peluang moga dipanjangkan umur lagi. Moga sempat menebus dosa-dosa lalu dan menjadi hambaNYA yang terbaik, bertemu dengan orang-orang yang tersayang. Ibu yang melahirkan kita mengandung dan menyusukan...subhanallah... besarnya jasa dan pengorbanan ibu. Moga-moga pengakhiran yang terbaik itu menjadi milik kita. Amin...




Aku hidup dalam kenangan,
Imbauan rindu sering bertandang,
Sumber kekuatan di akan datang.




Sunday, 6 June 2010

Kasih Itu Rahmat Tuhan


بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته


Pernahkah anda menatap wajah orang-orang terdekat dengan anda ketika ia sedang tidur? Kalau belum, cubalah sekali sahaja menatap wajah-wajah ketenangan mereka ketika sedang tidur. Ketika itu yang kelihatan adalah ekspresi paling wajar dan paling jujur dari seseorang.


Seorang artis yang ketika di panggung, di layar perak, di kaca tv begitu cantik dan gemerlapan pun boleh jadi akan kelihatan sederhana dan jauh berbeza jika ia sedang tidur. Orang paling kejam di dunia pun jika ia sudah tidur tidak akan kelihatan wajah bengisnya.


Perhatikanlah ayah anda ketika beliau sedang tidur. Sedarilah, betapa badan yang dulu sasa dan gagah itu kini semakin tua dan lemah, betapa rambut-rambut putih mulai menghiasi kepalanya, betapa kerut mulai terpahat di wajahnya. Orang inilah yang setiap hari bekerja keras untuk kesejahteraan kita, anak-anaknya. Orang inilah rela melakukan apa sahaja asalkan perut kita kenyang dan pendidikan kita lancar.


Sekarang, beralihlah. Lihatlah ibu anda. Hmm... kulitnya mulai kerepot dan tangan yang dulu halus membelai-belai tubuh bayi kita itu kini kasar kerana tempaan hidup yang keras. Orang inilah yang tiap hari mengurus keperluan kita. Orang inilah yang paling rajin mengingatkan dan mengomeli kita semata-mata kerana rasa kasih dan sayang.


Cubalah menatap wajah orang-orang tercinta itu : Ayah, Ibu, Suami, Isteri, Kakak, Abang, Adik, Anak, Sahabat, Semuanya. Rasakanlah sensasi yang timbul sesudahnya. Rasakanlah energi cinta yang mengalir perlahan-lahan ketika menatap wajah yang terlelap itu. Rasakanlah getaran cinta yang mengalir deras ketika mengingat betapa banyaknya pengorbanan yang telah dilakukan orang-orang itu untuk kebahagiaan anda. Pengorbanan yang kadang tertutup oleh kesalah-fahaman kecil yang entah kenapa selalu sahaja nampak besar. Secara ajaib Tuhan mengatur agar pengorbanan itu dapat kelihatan lagi melalui wajah-wajah jujur mereka ketika sedang tidur. Pengorbanan yang kadang melelahkan namun enggan mereka ungkapkan.


Dan ekspresi wajah ketika tidur pun mengungkap segalanya. Tanpa kata, tanpa suara dia berkata : "betapa lelahnya aku hari ini". Dan penyebab lelah itu? Untuk siapa dia berlelah-lelah? Tidak lain adalah kita. Suami yang bekerja keras mencari nafkah, isteri yang bekerja keras mengurus dan mendidik anak, juga rumah. Kakak, abang, adik, anak, dan sahabat yang telah melalui hari-hari suka dan duka bersama kita.


Resapilah kenangan-kenangan manis dan pahit yang pernah terjadi dengan menatap wajah-wajah mereka. Rasakanlah betapa kebahagiaan dan keharuan seketika terganggu jika mengingat itu semua. Bayangkanlah apa yang akan terjadi jika keesokan hari mereka; orang-orang yang dikasihi itu tidak lagi membuka matanya, selama-lamanya...






Aku hidup dalam kenangan,
Imbauan rindu sering bertandang,
Sumber kekuatan di akan datang.




Saturday, 5 June 2010

Rahmat Allah ~ Suatu Catatan Sejarah

بِسۡمِ ٱللهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته


Nabi Musa a.s lari meninggalkan Mesir setelah beliau terlibat dengan kejadian memukul sehingga mati seorang Qibti (Coptic) dalam usaha menghalang kezaliman perkauman terhadap Bani Israil. Tindakannya itu telah melebihi jangkaan dan itu adalah satu kesilapan. Beliau terpaksa lari menuju ke Madyan dalam keadaan yang susah.


Perjalanan dari Mesir ke sana begitu jauh bagi memastikan tentera Firaun tidak sampai ke negeri tersebut untuk menangkapnya.



Apabila sampai di Madyan, Musa a.s. mendapati sekumpulan pengembala yang sedang menceduk air, sementara di sana ada dua gadis yang hanya menunggu. Jiwa Musa a.s yang amat pantang melihat kejanggalan atau unsur ketidakadilan itu menyebabkan dia yang dalam keletihan yang teramat bertanya hal kepada kedua gadis tersebut.

Al-Quran menceritakan kejadian ini: (maksudnya)

“Dan setelah dia (Musa a.s.) menuju ke negeri Madyan, dia berdoa “Mudah-mudahan Tuhanku menunjukkan kepadaku jalan yang betul”. Dan ketika dia sampai di telaga air Madyan, dia dapati di situ sekumpulan lelaki sedang memberi minum (binatang ternak masing-masing), dan dia juga dapati di sebelah mereka dua perempuan yang sedang menahan kambing-kambingnya. Dia bertanya: “Apa hal kamu berdua?” mereka menjawab: “Kami tidak memberi minum (kambing-kambing kami) sehingga pengembala-pengembala itu membawa balik binatang ternak masing-masing; dan bapa kami seorang yang terlalu tua umurnya “. (Surah al-Qasas 22-23).

Nabi Musa a.s. tidak mampu melihat unsur penindasan dan sikap tidak membantu yang lemah. Simpatinya terhadap dua gadis tersebut melebihi keletihan yang dihadapinya ketika itu. Dia tampil dengan segala keringat yang berbaki menolong gadis-gadis tersebut mendapatkan air. Dia menolong tanpa sebarang habuan yang diharapkan.


Setelah menolong mereka, dan mereka pun pulang, Nabi Musa a.s. dalam keadaan yang teramat letih itu, pergi ke tempat yang teduh dan berdoa dengan doa yang ringkas tetapi amat dalam maksudnya.


Doa ini jika dibaca dengan jiwa yang benar-benar bergantung kepada Allah, maka saya yakin ketenangan itu hadir sebelum pertolongan Allah itu turun. Firman Allah menceritakan hal Musa a.s. dan doanya: (maksudnya)

“Maka Musa pun memberi minum kepada binatang-binatang ternak mereka, kemudian ia pergi ke tempat teduh lalu berdoa: “Wahai Tuhanku, Sesungguhnya aku ini kepada apa sahaja kebaikan yang Engkau turunkan amatlah fakir” (Surah al-Qasas 24).

Maksud Nabi Musa a.s. beliau amat fakir atau amat memerlukan kepada apa sahaja kebaikan yang akan Allah berikan kepadanya bagi menghadapi suasana dirinya ketika itu. Dalam bahasa al-Quran yang indah al-Quran riwayatkan ucapan Musa a.s “Rabbi inni lima anzalta ilaiya min khairin faqir”. Sangat ringkas, namun sangat bermakna. Sudah pasti ucapan asal Musa a.s dalam bahasa Hebrew, namun Allah telah merakamkan ke dalam bahasa Arab yang padat dan indah.

Ada ahli tafsir yang menyebut maksud Musa bagi perkataan ‘khair’ atau apa sahaja kebaikan dalam doa ini adalah makanan. Namun, perkataan ‘khair’ atau apa sahaja kebaikan atau kurniaan Tuhan itu amat luas. Bukan sahaja makanan atau minuman, bahkan apa sahaja yang memberikan kebaikan kepada seorang insan. Musa a.s. sendiri selepas berdoa dengan doa ini diberikan limpah kurnia Allah yang berbagai, melebihi jangkaannya.

Ayat-ayat seterusnya dalam Surah al-Qasas ini menceritakan bagaimana kedua orang gadis tadi kembali semula menjemput Musa a.s. ke rumah mereka atas jemputan ayah mereka. Ayah mereka yang merupakan seorang yang mulia amat berterima kasih atas pertolongan Musa a.s. Al-Quran tidak menceritakan siapakah ayah mereka. Apakah dia Nabi Syu’aib atau orang lain tidaklah dapat dipastikan. Kemungkinan besar bukan Nabi Syu’aib seperti yang disangka oleh sebahagian penafsir.

Apa pun, Nabi Musa a.s. diberikan tempat perlindungan, makanan, kerja, bahkan dikahwinkan dengan salah seorang dari gadis tersebut. Demikian Allah memustajabkan doa Musa yang ringkas, tetapi penuh makna. Doa yang dilafazkan dari jiwa yang benar-benar tunduk, menyerah, sepenuh tawakkal dan keyakinan bahawa Allah sentiasa menyahut permohonan hamba yang benar-benar bergantung kepadaNya.

Jauh Musa a.s berjalan membawa perasaan bimbang dan bebanan ancaman oleh pihak musuh. Ujian yang memaksa dia yang membesar dalam istana menjadi pelarian tanpa bekalan. Namun dalam ujian itu Nabi Musa a.s mengalami pengalaman hidup yang hebat dan kurniaan-kurniaan yang besar. Tanpa ujian, hal ini tidak akan berlaku.

Demikian jika kita membaca doa-doa yang syahdu yang penuh menyentuh akal dan ruh yang dilafazkan oleh insan-insan soleh dalam al-Quran, samada para nabi atau selain mereka, kita dapati doa-doa itu banyak yang diungkapkan dalam keadaan getir dan ujian yang mencabar.

Kita sendiri dalam hidup barangkali tidak akan menghafaz banyak doa al-Quran dan al-Sunnah melainkan setelah kejadian-kejadian dalam hidup yang mendesak untuk kita ‘bertadarru’ atau merendah, akur dan tunduk dengan sepenuh jiwa kepada kebesaran kerajaan Allah Yang Maha Menguasai segala urusan hidup ini.


Banyak ujian hidup ini sebenarnya amat bermakna jika kita mahu menghayatinya. Betapa ramai orang yang menemui iman dan amalan soleh dek kerana ujian yang menimpanya. Berapa ramai manusia yang bersarang bongkak dan takabur dalam jiwa, tidak dapat ditegur dan dididik, tetapi akhirnya menjadi insan yang tawaduk kepada Allah dan menghargai orang lain setelah melalui ujian hidup yang getir. Betapa ramai pula insan yang soleh dan disayangi Allah dinaikkan darjat dan nilainya di sisi Allah disebabkan ujian yang menimpanya.

Firman Allah: (maksudnya)

Demi sesungguhnya! Kami akan menguji kamu dengan sedikit perasaan takut, kelaparan, kekurangan dari harta benda dan jiwa serta hasil tanaman. dan berilah khabar gembira kepada orang-orang yang sabar. (Iaitu) orang-orang yang apabila mereka ditimpa oleh sesuatu kesusahan, mereka berkata: “Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jualah kami kembali. Mereka itu ialah orang dilimpahi dengan pujian dari Tuhan mereka serta rahmatNya; dan mereka itulah orang-orang yang dapat petunjuk hidayahNya.(Surah al-Baqarah 155-157).

Kita tidak meminta ujian, tetapi kita sentiasa perlu tahu bahawa ujian itu adalah rukun hidup. Ujian bagaikan bicara atau ‘sapaan’ Allah kepada kita agar kita ingat apa yang lupa, ubah apa yang salah, atau untuk kita tambahkan pahala dan padamkan dosa. Sabda Nabi s.a.w:

“Tiada apa pun yang menimpa seorang mukmin, sehingga duri yang mengenainya, melainkan Allah tuliskan untuknya kebaikan (pahala) dan padam dari kejahatan (dosa)” (Riwayat Muslim).

Melihat manusia yang diuji menjadikan kita rendah diri dan insaf. Mungkin dia yang dilihat oleh orang lain sedang dalam ketenatan cabaran tetapi sebenarnya sedang tenggelam dalam rahmat dan kasih sayang Tuhan. Melihat orang yang susah, mereka yang dizalimi, mereka yang kesempitan atau menderita kesakitan menyebabkan kita terlintas segera dalam perasaan “dia di sisi Allah mungkin lebih baik daripada diriku ini”.

Kita semua akan melalui ‘bicara dan didikan Tuhan’ melalui pentas ujian. Kita mengharapkan ujian akan membawa kita kepada sesuatu yang lebih baik. Ujianlah yang telah membawa Musa a.s. kepada berbagi kurniaan. Untuk itu kita wajar selalu merintih kepada Allah seperti Musa a.s.: “Rabbi inni lima anzalta ilaiya min khairin faqir” (”Wahai Tuhanku, Sesungguhnya aku ini kepada apa sahaja kebaikan yang Engkau turunkan amatlah fakir”).



Aku hidup dalam kenangan,
Imbauan rindu sering ,
Sumber kekuatan di akan datang.